Epidemiologi analitik merupakan suatu studi atau penelitian yang berupaya menganalisis hubungan antara suatu faktor dengan faktor lainnya. Prinsip studi ini adalah membandingkan risiko terkena penyakit minimal pada dua kelompok sehingga memungkinkan pengujian hipotesa kausal.

Intinya studi ini berusaha menemukan penyebab dengan membandingkan 2 hal dasar yang pasti ada pada suatu masalah penyakit / kesehatan. Lebih jelasnya lihat gambar ini:

Gambar 1

Dengan adanya dua faktor ini, maka desain studi epidemiologi dapat dilakukan. Studi epidemiologi dibedakan menjadi Studi observasional dan eksperimental. Dalam gambar ditampilkan:

Gambar 2

Agar sedikit lebih mengerti tentang studi observasional.

Ada suatu contoh kasus seperti ini:

Suatu penelitian ingin mengetahui beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya penyakit thypoid pada Anak-anak. Beberapa faktor yang diduga sebagai faktor risiko terjadinya penyakit Thypoid adalah Kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan. Jelaskan bagaimana penelitian tersebut akan dilakukan dengan desain penelitian yang berbeda;

  1. Case Cantrol
  2. Cohor
  3. Cross sectional

Penjelasan

  • Case Control

Studi yang menganalisis hubungan kausal dengan menggunakan menentukan penyakit (outcome) terlebih dahulu kemudian mengidentifikasi penyebabnya (faktor risiko). Dalam studi ini juga menentukan kasus (case) yaitu orang-orang yang berpenyakit, serta kontrol (control) yaitu kelompok yang tidak berpenyakit untuk dibandingkan.

Kelompok kasus dalam kasus diatas adalah anak-anak sekolah yang terkena penyakit typhoid sedangkan kontrolnya adalah anak-anak sekolah yang tidak terkena penyakit. Faktor risikonya adalah kebiasaan jajan di sekolah dan kebiasaan cuci tangan sebelum makan merupakan paparannya. Dari anak-anak yang terkena penyakit dan tidak terkena penyakit ini dicari perbandingannya faktor apa yang membedakan mereka. Ternyata setelah dicari ditemukan kebiasaan jajan dan cuci tangan mereka yang kemudian dijadikan faktor risikonya. Sehingga dalam studi ini kita berusaha mencari penyebab dari penyakit yang ada terlebih dahulu.

Gambar 3

Besarnya risiko kejadian penyakit typhoid seperti ini

Jajan di Sekolah Paparan Disease (Typhoid)
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b
E- c d
Total a+c b+d

Odds Rasio (OR) jajan di sekolah = axd / b x c = ad/bc

Tidak cuci tangan Paparan Disease (Typhoid)
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b
E- c d
Total a+c b+d

Odds Rasio (OR) tidak cuci tangan = axd / b x c = ad/bc

Kelebihan dari model studi ini adalah waktu penelitian yang relatif singkat, murah dan cocok untuk meneliti penyakit langka dan memiliki periode laten yang panjang. Kelemahannya adalah rawan terhadap recall bias ketika riwayat paparan sulit untuk diketahui.

  • Cohort

Studi yang mempelajari hubungan antara paparan dan penyakit dengan memilih dua kelompok studi berdasarkan status paparan yang kemudian diikuti (follow up) hingga periode tertentu sehingga dapat diidentifikasi dan dihitung besarnya kejadian penyakit. Kelompok studi merupakan sekelompok orang yang terpapar pada faktor risiko dan kelompok kontrol adalah sekelompok orang yang tidak terpapar. Dalam periode tertentu kelompok ini terus dipastikan keadaan paparan dan sakitnya.

Berbeda dengan studi case control, studi ini bersifat kedepan (forward looking) sehingga penelitian dimulai dari faktor risikonya, dalam kasus ini adalah kebiasaan jajan di sekolah dan cuci tangan, kemudian diikuti dengan kejadian penyakitnya yang dalam hal ini adalah typhoid.

Gambar 4

Besarnya risiko kejadian penyakit typhoid seperti ini

Jajan di Sekolah Paparan Disease (Typhoid) Total
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b a+b
E- c d c+d

Insidence kelompok terpapar (Po) = a/a+b

Insidence kelompok tidak terpapar (Pi) = c/c+d

Relative Risk (RR) = Po/Pi

Tidak cuci tangan Paparan Disease (Typhoid) Total
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b a+b
E- c d c+d

Insidence kelompok terpapar (Po) = a/a+b

Insidence kelompok tidak terpapar (Pi) = c/c+d

Relative Risk (RR) = Po/Pi

Kelebihan studi ini adalah lebih mempunyai kekuatan dalam membuktikan inferensi kausa dibandingkan studi observasional lainnya, didapatkan angka kejadian penyakit (insidence rate) secara langsung, serta cocok untuk meneliti paparan yang langka atau penyakit yang kronik. Kelemahannya apabila terjadi bias penarikan responden yaitu banyak yang drop out, perlu dana yang besar dan waktu yang lama pula.

  • Cross Sectional

Studi yang mempelajari prevalensi, distribusi mapun hubungan penyakit dan paparan dengan mengamati status paparan, penyakit atau outcome lain secara serentak pada individu-individu dari suatu populasi pada suatu waktu. Studi ini disebut juga sebagai studi prevalensi atau survey, merupakan studi yang sederhana yang sering dilakukan.

Pada kasus thypoid di atas, studi cross sectional dilakukan dengan memilih sampel dari populasi dipilih secara acak. Populasi adalah anak-anak sekolah, untuk itu dilakukan pengambilan sampel yang random atau acak agar bisa mewakili dari populasi anak sekolah tersebut. Setelah dilakukan pemilihan sampel maka didapat kelompok yang terpapar dan menderita thypoid (E+D+), terpapar tetapi tidak menderita thypoid (E+D-),  tidak terpapar dan  menderita thypoid (E-D+), dan tidak terpapar dan tidak menderita thypoid (E-D-).

Jajan di Sekolah Paparan Disease (Typhoid) Total
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b a+b
E- c d c+d

Prevalence kelompok terpapar (Po) = a/a+b

Prevalence kelompok tidak terpapar (Pi) = c/c+d

Ratio Prevalence (RP) = Po/Pi

Tidak cuci tangan Paparan Disease (Typhoid) Total
D+ (sakit) D- (tidak sakit)
E+ a b a+b
E- c d c+d

Prevalence kelompok terpapar (Po) = a/a+b

Prevalence kelompok tidak terpapar (Pi) = c/c+d

Ratio Prevalence (RP) = Po/Pi

Kelebihan dalam studi ini adalah dalam teknisnya yang mudah dilakukan dan murah serta tidak memerlukan waktu lama dan follow up. Umumnya studi ini dimanfaatkan untuk merumuskan hipotesis hubungan kausal yang akan diuji studi analitik lainnya (kohort dan case control). Kelemahannya adalah tidak mengenal dimensi waktu, dimana tidak menjamin bahwa paparan mendahului penyakit atau sebaliknya.

Demikian singkat tentang Studi epidemiologi.

Salam sehat negriku.

Permasalahan kesehatan di masyarakat apalagi masalah tentang penyakit yang terjadi di masyarakat tentu membutuhkan adanya tindakan penyelesaian. Kalau tidak perlu diselesaikan, bukan masalah tentunya. Hehe

Masalah kesehatan harusnya menjadi PR bagi sektor kesehatan itu sendiri. Anggapan seperti ini hendaknya harus dihindari. Masalah yang berada dalam masyarakat bisa menjadi kompleks karena menjamah sektor lainnya juga. Untuk itu diperlukan pemecahan masalah bersama dengan kontribusi sektor lain maupun stakeholders (pihak yang berkepentingan).

Adanya hubungan dengan sektor lain tetapi tetap harus selalu memperbaiki kemampuan sektor yang bersangkutan. Surveilans pun tetap memberikan kontribusi terbaiknya.

1. Peranan Stakeholders pada Masalah Malaria

-          Dinas Kesehatan

Dinas kesehatan dapat berperan dalam menentukan kebijakan, penyuluhan dan tindakan terkait masalah malaria yang ada. Kebijakan bisa berupa penggunaan kelambu, kerjasama dengan sektor lain, membina desa siaga, pelaksanaan 3M Plus teratur, penyediaan informasi malaria di setiap layanan kesehatan, serta kegiatan lainnya yang bersifat pencegahan maupun penanggulangan.

  • Pelaporan kejadian malaria
  • Pengobatan Menggunakan Combination Therapy/ ACT
  • Pencegahan penularan malaria dan pengendalian vektor
  • Pelatihan petugas dan penelitian
  • Program promosi kesehatan beserta penyuluhan kesehatan (memberikan informasi tentang malaria, penularan serta pencegahannya)
  • Lokakarya penanggulangan malaria
  • P2P (Program Pemberantasan Penyakit)
  • Melakukan survei jentik dan kontainer

-          Dinas Pendidikan

Dinas pendidikan dapat menyumbang pengaruh yang besar dalam upaya penanggulangan penyakit ini. Dengan pendidikan dan penyuluhan informasi di sekolah-sekolah dapat membantu pemberantasan masalah. Di pendidikan sekolah-sekolah yang ada dapat dihimbau untuk menjaga lingkungan sekolah dan rumah para siswa, menjaga kebersihan diri, juga pencegahan dengan anjuran pemakaian anti nyamuk. Peranan lainnya berupa

  • Sarana menginformasikan masalah kesehatan yang terjadi sehingga timbul kesadaran
  • Lokakarya serta penyuluhan tentang malaria bagi para guru penjaskes dan UKS
  • Penambahan draft pendidikan dengan muatan lokal kesehatan
  • Pelaksanaan lomba sekolah sehat
  • Pelatihan dokter kecil

-          Institusi Pendidikan

Peranan institusi pendidikan dengan adanya kegaitan penelitian tentang malaria serta kegiatan pengabdian pada masyarakat yang meliputi penyuluhan serta kemandirian masyarakat terhadap masalah malaria. Institusi pendidikan merupakan mitra sektor kesehatan dan pemerintah untuk bersama-sama mengatasi masalah. Hasil-hasil dari penelitian yang ada bermanfaat bagi sektor kesehatan dan pemerintah untuk menentukan kebijakan yang ada.

Terdapat hubungan timbal balik yang saling bermanfaat dimana institusi pendidikan mendapat bahan ajar dan praktek dari masalah dimasyarakat.

-          Pihak Swasta

Pihak swasta yang merupakan mitra diperlukan dalam upaya penyelenggaraan dana dari suatu program pemerintahan. Banyaknya pihak swasta yang ada membantu pula dalam penyadaran masalah yang terjadi dengan mengadakan penyuluhan dan pemberian informasi kepada para pekerjanya.

-          Pemerintah Daerah

Pemerintah daerah merupakan penyelenggara pemerintah pada daerah bersangkutan memiliki peranan untuk menentukan segala kebijakan serta menciptakan kondisi daerah yang baik bagi masyarakat. Berhubungan dengan semua dinas dan pihak yang ada untuk melakukan kebijakan. Pemerintah dapat mengatur tentang persebaran pemukiman yang dapat mengurangi perkembangan nyamuk, penyediaan sarana dan prasarana, pensosialisasian kedaerah-daerah, penataan kota, lapangan pekerjaan dan pangan.

2. Peranan Stakeholders pada Penyakit PD3I

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I) ini diharapkan keberhasilannya karena membuktikan cakupan imunisasi pada anak-anak pada penyakit-penyakit seperti contohnya TBC, Tetanus, Dipteri, Polio, Campak serta Hepatitis B.

Pencegahan yang dilakukan dengan imunisasi ini tentu harus melibatkan pihak-pihak untuk dapat mendukung keberhasilan program. Di antaranya adalah dinas kesehatan yang berkewajiban untuk pelaksanaan dan evaluasi program; dinas pendidikan yang membantu mempermudah penyelenggaraan dengan partisipasi anak sekolah; pihak swasta dan pemerintah yang mengupayakan sarana prasarananya; departemen agama dalam hal perkawinan dan ibadah haji, dll.

Dinas kesehatan bekerja sama dengan dinas pendidikan serta pemerintah dalam melaksanakan BIAS ( Bulan Imunisasi Anak Sekolah). Bekerjasama dengan dinas pendidikan dalam hal ini tujuannya adalah sekolah-sekolah karena sasaran dari imunisasi adalah anak usia sekolah dan dilaksanakan di sekolah.
Departemen Agama dalam pelaksanaan pernikahan menetapkan bahwa calon pengantin wanita telah diberi imunisasi TT. Hal ini telah dimasukkan dalam Peraturan Daerah tentang pemeriksaan calon pengantin. Kerjasama yang lain adalah pemberian imunisasi meningitis pada para calon haji yang akan pergi ke luar negri.

Dinas Kesehatan dan Dinas Tenaga Kerja bekerjasama dalam pemberian vaksin tetanus toksoid pada tenaga kerja wanita usia subur. Selain itu, dilakukan kerja sama dalam program Pemberian vaksin pada tenaga kerja yang mendapat paparan virus. Misalnya pemberian vaksin rabies pada pekerja yang bekerja dengan hewan.


Make a comment

Name (required)

Email (required)

Website

You can use these tags:
<a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

Comments links could be nofollow free.

Trackback URL for this post.

Improve the web with Nofollow Reciprocity.